Skip navigation

Malam minggu ini aku sedang kelabu. Aku berharap seseorang yang sebenarnya aku tunngu-tunggu SMS darinya malah kirim SMS yang tidak-tidak . aku ingin menangis sejadi-jadinya , tapi itu tak aku lakukan. Air  mata itu aku simpan di sela-sela pelupuk mata, yang ter;ihat hanyalah pecahan – pecahan kaca di mataku. Air mata itu tak jadi meleleh membasahi pipi. Hati ini terasa sakit , sakit tak alang kepalang.

Seseorang itu berkata padaku di dalam smsnya “aku benar benar akan bahagia jika mas dwi mencintai mencintai orang lain dan wanita itu juga mencintai mas dwi , tapi bukan aku mas”

Aku tak mengerti sebenarnya apa yang aku cari selama ini, apa yang aku tunggu  dan apa yang aku harapkan dari adis itu. Satu setengah tahun berlalu , akupun menunggunya dengan sangat sabar , tapi dia sama seperti yang dulu-tidak mau balikkan- dengan alas an yang sama “aku tidak mau menyakitimu”

Aku selalu bertanya-tanya dalam hatiku , “kenapa aku tak bisa mencintai orang lain dengan sepenuh hati?” aku ini orang bodoh. Berkali-kali aku pacaran untuk melupakan orang itu . aku sampai muak dengan pacaran., semuanya berakhir tragis. Semuanya hanya sandiwara. Aku mencari alasan agar  aku dapat putus dari cewek-cewek itu. Ga ada rasa sayank, ga ada rasa hormat ato apalah yang penting aku dapat putus. Karena aku tak bisa mencintai wanita dengan sangat tulus selain Eni.

Aku masih saja terpatri pada satu hati. Hati itu tak pernah berpaling ke hati yang lain. Berat sekali aku melalui hari-hari tanpanya. Ketika aku di dekatnya ..hati ini selalu tentram , damai dan bahagia.tapi ada juga waktu –waktu dimana dia membuatku sangat jemgkel., marah, dan buat aku ilang feeling. Tapi dia itu istimew, di sabar menghadapiku. Jika aku marah padanya , aku hanya diam. Bertemu di koridor kelasnya pun aku hanya diam, tak ada kata-kata yang keluar dari mulutku ini.  Diam mematung dan tak acuh. Begitulah ketika aku marah padanya. Ketika aku marah dia selalu menghampiriku , berbasa basi menanyakan hal apapun. Aku selalu ingat dua kejadian ketika aku marah padanya:

1.Aku marah padanya ketika ia tak punya waktu untuku

saat itu sudah tiga hari aku tak ke kelasnya untuk sekedar berjalan –jalan ke parkiran atau ngobrol . aku selalu lewat di depan kelasnya , tak ada kata yang terucap dari mulut, seperti KA eksekutif Argowilis  –  bablas terus-. Mungkin karena takdir. Saat itu aku ingin duduk berlama-lama menunggu bis . beberapa bus pun lewat di depanku tapi aku tak segera naik. Aku duduk melamun sendiri. Saat iu pula dia dating menghampiriku “mas, napa belum pulang?” aku jawab seadanya “ ga pa pa kok”. Dia Tanya lagi “mas, marah ma aku?” aku jawab “iya” . seketika itu aku langsung naik bus , kebetulan saat itu ada bus yang lewat dan aku stop.  Aku berlalu meninggalkannya tanpa ada sepatah katapun. Saat udah naik bus, aku menoleh ke belakang dan aku melihat keputusasaan, rasa bersalah, rasa sedih  di wajahnya. Aku amati dia sampai dia berlalu (tak terlihat). Tapi sebenarnya aku merasa sangat kasihan padanya.

2.Dia ingkar janji

Aku marah padanya ketika ia ingkar janji padaku. Sama seperti yang dulu. Aku selalu diam seribu kata. Saat itu sore hari jam tigaan. Ada Sms  darinya “mas, aku tunggu di DAM Colo Sekarang”. Tapi aku berpura –pura tak ada waktu . alas an ada acara bareng teman di café tapi sebenarnya aku ada acara kondangan di rumah tetangga aku. Biarlah alas an sedikit lebay. Tapi dia itu selalu memaksaku , dalam hati ini pun prasangka buruk itu bermunculan dengan cepat layaknya sepeti jamur panu yang pesta pora di atas kulit – cepat sekali-. Prasangka buruk itu berkata padaku “ jangan  percaya padanya , dia itu ingkar janji”. Prasangka lain berkata “jangan berangkat menemuinya, di berbohong, dia sebenarnya ada di rumah”.  Prasangka lain berkata “ jangan  ke sana,dia akan memutuskanmu, lalu aku akan nyebur ke DAM karena frustasi”

Seperti uang receh, ada bagian depan dan belakang. Begitu pula denga hal ini. Ada prasangka buruk dan ada juga prasangka  baik. Prasangka baik itu berkata, “jika kamu masih percaya bahwa dia itu masih mencintaimu, datanglah padanya”.

Hmmm,lalu otakku mulai ikut campur , dia menghubungkan neuron-neuron satu dengan yang lain sehingga terjadi aliran listrik. Itu artinya otak mulai berikir. Otakku mulai melogika  sebuah cinta milik tuannya. Ah… proses yang sangat rumit. Padahal cinta itu tak ada logika . kata agnes monica. Tapi begitulah otakku ini. Otakku ini sedang berdiskusi . otak kiri bertanya pada otak kanan: “wahai sahabatku otak kanan, bagaimana menurutmu jika aku bertemu dengan Eni? Kata-kata apa yang harus aku katakana padanya?’

Otak kanan berkata “ kau hanya perlu tersenyum padanya, dan jangan lupa kau harus membawa sebuah surprise padanya. Otak kanan menyahut lagi  “lantas …apa kau juga telah mengambil keputusan dengan melogika, bahwa tuanmu ini akan berangkat menemui gadis itu?”

Otak kiri berkata “sepertinya aku tidak bisa memberangkatkan tuanku ini karena logika ku tentang implikasi jika p→q. sama halnya jika jika dia ingkar maka dia berbohong”.

Wah,seru sekali perdebatan itu , hingga aku bingung pilih yang mana diantara pilihan keputusanku. Aku duduk sebentar lalu merenung, mengeliminasi  prasangka buruk dan menstubtitusi prasangka baik, aku berangkat menemuinya.

Sampai di sana ternyata orangnyapun ada, sedag melihat kilauan air yang dipantulkan berjuta-juta spectrum warna dari sinar matahari. Tampak seperti granit, ilmenit, hematite, sangat berkilau-kilau. Aku menghampirinya dan bertanya padanya dengan nada ketus “uadh lama nunggu dek?” dia jawab “lumayan”. Mungkin dalam hatinya dia berkata “aku wes ngoyot nganti lumuten nunggu kowe mas” (artinya”aku udah berakar sampai lumutan nunggu kamu mas). Dalamnya laut orang tahu, dalam hati orang tak tahu. Aku terlambat ini bukan karena ban bocor  atau palah tapi karena aku menjunjung tinggi kemahatololan. Masak cinta di logika? Aku pun terlalu banyak berspekulasi layaknya seorang yang ditawari jasa asuransi oleh seorang sales promotion.

Saat itu aku duduk agak jauh darinya , sambil melihat matahari terbenam “mas, sini dunk jangan jauh-jauh” aku lalu menggeser posisi duduk hingga aku berdekatan dengannya. “mas, masih marah ma adek?” aku diam, diam mematung seperti arca Gladak . “mas, mau gak mavin adek?” aku tetep aja diam berpuluh-puluh ribu bahasa. Aku lalu menatapnya dengan senyum, kali ini wajahku aku buat sumringah seperti orang yang dapet nomor buntut perjudian togel. Aku berkata “ apa kau takut melihatku seperti ini?” . aku tak pernah mendendam ,yang sudah ya sudah”. Dia mengacungkan jari kelingking , dan akupun juga, itu artinya kita damai lagi.

Semua itu hanya kenangan di masa lalu, ketika aku mengingatnya sekarang ini, ketika sendirian di kost. Aku bisa senyu-senyum sendiri , senyum yang getir, dan tanpa terasa air mata itu meleleh membasahi pipi. Tak apalah,, cowok juga butug nangis

1,5 tahun aku menunggunya

1,5 tahun dengan jawaban yang sama…

1,5 tahun aku selalu merindukannya

Tapi skarang tak berarti lagi………………….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: